Siapakah Saya di Antara Senja dan Kopi yang Dingin?

Wednesday, 12 November 2025 - 08:40

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Sitti Nurliani Khanazahrah

Sejujurnya, saya menyukai duduk sendirian di tempat-tempat seperti ini. Di antara angin sore, secangkir kopi yang sudah mulai dingin dan cahaya matahari yang pelan-pelan surut.

Ada yang bilang senja mengajarkan kita cara pamit tanpa membuat dunia terasa kehilangan. Mungkin itu benar. Atau mungkin juga saya hanya sedang mencoba mencari sesuatu yang lebih jauh dari sekadar kata-kata yang indah.

Saya tidak sedang mencoba terlihat bijak. Tidak juga berniat menjadikan diri tampak seperti filsuf. Saya hanya ingin jujur terhadap perasaan-perasaan yang selama ini bersemayam diam-diam di dada saya. Seperti tentang rindu yang tidak tahu arah pulang, tentang pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah selesai dan tentang hidup yang diam-diam berjalan tanpa menunggu kita siap.

Sejak dulu orang-orang sering mengira filsafat adalah tentang orang-orang pintar yang pandai berdebat, mencatat istilah sulit, atau membangun ruang diskusi dengan meja, spanduk, dan mikrofon. Tetapi pelan-pelan saya mengerti bahwa filsafat bukan soal panggung. Ia lahir justru ketika semua panggung sudah sepi, saat lampu dimatikan, saat tinggal diri kita sendiri dan suara hati pelan yang bertanya: “Apakah kamu sungguh hidup atau hanya sekadar menjalani hari?”

Filsafat bagi saya bukan tentang membuktikan bahwa saya tahu banyak hal. Tetapi justru sebaliknya, filsafat adalah keberanian untuk mengakui bahwa saya tidak tahu. Bahwa saya bisa salah. Bahwa saya rapuh. Bahwa saya takut kehilangan. Dan dari titik itulah pertanyaan lahir bukan untuk memenangkan debat melainkan untuk memahami hidup dan menerima diri sendiri sebagaimana adanya.

Dulu saya punya kebiasaan yang mungkin bagi banyak orang suatu keanehan. Saya sering melakukan percakapan kecil dengan diri saya sendiri. “Apa yang sebenarnya kamu cari?” tanya saya pada bayangan di jendela. Bukan gelar, bukan pengakuan dan bukan juga panggung. Yang saya cari adalah tempat di mana saya bisa merasa pulang meski hanya lewat kata-kata dan meski hanya lewat pertemuan sunyi dengan secangkir kopi.

Filsafat rupanya bukan tentang berapa banyak buku yang saya baca atau tulis. Ia tumbuh justru semisal saya melihat ibu yang diam-diam menyiapkan sarapan lebih pagi dari biasanya. Ketika ayah menyimpan letihnya sendirian tanpa pernah mengeluh. Atau ketika anak kecil mengajak hujan bermain bersama. Di sana, di tengah hal-hal yang sederhana itu, saya akhirnya mengerti bahwa berpikir tanpa merasakan adalah sia-sia dan merasakan tanpa berani berpikir kadang hanya menyisakan luka yang terpendam.

Saya tidak tahu bagaimana cara menjadi “filsuf”. Dan semakin dipikirkan, justru saya merasa itu tidak perlu. Mungkin tugas saya dan kita semua bukan menjadi filsuf, melainkan menjadi manusia sebaik yang kita mampu. Manusia yang mau bertanya tanpa merasa paling tahu, manusia yang mau mendengar meski tidak selalu sepakat, manusia yang mau memahami meski tidak selalu mengerti, atau yang mau hadir meski tidak diminta.

Kadang saya juga bertanya. Untuk apa semua refleksi ini? Dunia tidak berhenti hanya karena saya sedang merenung. Tetapi bukankah justru karena dunia berlari begitu cepat maka saya butuh sesekali berhenti sejenak? Untuk memastikan hati saya tidak tertinggal. Untuk memastikan bahwa saya masih punya alasan melanjutkan hidup dengan utuh, dan bukan hanya karena kewajiban atau tuntutan, tetapi karena saya sungguh-sungguh telah memilihnya.

Maka akhirnya saya belajar menikmati pelan-pelan. Belajar menerima bahwa tidak semua pertanyaan harus segera dijawab. Tidak semua luka harus disembuhkan hari ini. Dan tidak semua orang harus mengerti jalan yang saya tempuh. Karena ada hal-hal yang hanya bisa dijelaskan oleh waktu. Ada duka yang hanya bisa dirangkul oleh do’a. Dan ada kebahagiaan yang tumbuh tanpa suara tetapi kita bisa merasakannya di dada dengan hangat meski samar-samar.

Jika suatu hari orang bertanya apa itu filsafat bagi saya, maka saya mungkin akan menjawab dengan sangat sederhana bahwa filsafat adalah cara saya berdamai dengan hidup. Dengan masa lalu yang tidak bisa diubah, dengan masa kini yang sering tidak jelas, dan dengan masa depan yang belum tentu sesuai harapan. Filsafat bukan mahkota untuk dipamerkan, tetapi lentera kecil yang saya bawa ketika jalan menjadi gelap.

Dan malam ini, ketika langit mulai biru tua dan lampu-lampu kota mulai menyala, saya kembali meneguk sisa kopi yang sudah dingin. Saya tidak punya kata-kata yang heroik. Saya hanya punya keyakinan dengan perlahan bahwa selama saya masih mau merasa, bertanya, dan mencintai hidup meski dengan seluruh ketidaksempurnaannya, maka saya tidak sedang tersesat. Saya hanya sedang pulang. Perlahan-lahan. Untuk lebih mengenal diri lebih dalam lagi.

Berita Terkait

Mahasiswa IT Harus Berani Melampaui Zona Nyaman, Bukan Sekadar Mengejar Nilai
Rasionalitas dan Kedalaman Hati
Opini Masyarakat: Pelayanan Publik di Halmahera Selatan Masih Jauh dari Harapan
Berita ini 50 kali dibaca

Berita Terkait

Friday, 21 November 2025 - 06:44

Mahasiswa IT Harus Berani Melampaui Zona Nyaman, Bukan Sekadar Mengejar Nilai

Tuesday, 18 November 2025 - 08:59

Rasionalitas dan Kedalaman Hati

Wednesday, 12 November 2025 - 08:40

Siapakah Saya di Antara Senja dan Kopi yang Dingin?

Monday, 10 November 2025 - 01:03

Opini Masyarakat: Pelayanan Publik di Halmahera Selatan Masih Jauh dari Harapan

Berita Terbaru