Halmahera Timur – Suasana Lapangan Mancalele, Desa Cemara Jaya, tampak lebih semarak dari biasanya. Jumat, 28 November 2025 menjadi hari penuh warna, ketika ratusan warga dari berbagai desa di Kecamatan Wasile berkumpul merayakan Hari Ulang Tahun Transmigrasi Wasile ke-43. Perayaan ini bukan hanya seremoni tahunan, tetapi momentum penghormatan bagi perjalanan panjang transmigrasi yang telah membentuk identitas sosial, budaya, dan pembangunan masyarakat Wasile.
Dengan tema “Terus Tumbuh, Terus Maju, Terus Menjaga Persatuan”, acara ini hadir sebagai refleksi perjalanan empat dekade lebih—sejak tahun 1982—ketika kawasan ini masih berupa hamparan hutan, hingga kini menjadi pusat kehidupan, ekonomi, dan kebudayaan masyarakat transmigrasi.
Kemeriahan terlihat sejak pagi, ketika warga dengan pakaian tradisional mulai memenuhi lapangan. Beragam atribut budaya seperti jarik, caping, umbul-umbul tradisional, hingga topeng daerah, memberi warna yang menggambarkan keragaman asal para transmigran.
Atraksi tari dan parade busana adat menjadi sajian utama, disusul penampilan para seniman lokal dengan topeng besar dan riasan mencolok yang berhasil menarik perhatian peserta. Festival budaya ini menggambarkan bahwa identitas transmigran bukan sekadar memori masa lalu, tetapi warisan yang terus dirawat dan ditumbuhkan oleh generasi muda.
Meski pusat perayaan berada di Desa Cemara Jaya, partisipasi Desa Sidomulyo menjadi salah satu momen penting dalam acara ini. Kehadiran warga dengan formasi lengkap menunjukkan kuatnya hubungan sosial dan solidaritas lintas wilayah transmigrasi.
Tidak hanya mengikuti rangkaian kegiatan, warga Sidomulyo tampil kompak dengan busana tradisional dan kelompok seni, menegaskan bahwa persatuan merupakan fondasi utama keberhasilan transmigrasi sejak pertama kali dibangun.
Perjalanan transmigrasi di Wasile tidak lepas dari lika-liku perjuangan. Dengan modal kerja keras, gotong royong, serta keteguhan para pendatang awal, lahan hutan berubah menjadi permukiman, kebun produktif, sekolah, hingga sentra ekonomi.
Kini, setelah 43 tahun, Wasile bukan hanya tempat tinggal—tetapi ruang hidup yang penuh cerita, perjuangan, dan harapan. Generasi muda transmigran kini lahir, tumbuh, dan melanjutkan cita-cita para pendahulu mereka.
HUT Transmigrasi ke-43 ini tidak sekadar menjadi ajang hiburan, tetapi juga momentum refleksi bersama. Nilai kebersamaan, gotong royong, dan persatuan menjadi pesan utama yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.
Warga berharap perayaan ini menjadi pengingat bahwa transmigrasi di Wasile bukan hanya program pemerintah, tetapi perjalanan panjang manusia yang saling menyatu, membangun kehidupan, dan menjaga keharmonisan dalam keberagaman.
Perayaan tahun ini mengangkat tagline penuh makna:
“Jejak Transmigran, Jejak Kebersamaan.”
Tagline tersebut menggambarkan bahwa setiap langkah pembangunan Wasile adalah bagian dari sejarah para perintis yang datang jauh dari kampung halaman untuk membangun kehidupan baru.
Empat dekade berlalu, Wasile terus tumbuh dan berkembang—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara sosial, budaya, dan emosional.
Tim/red









