TANGIS DI ATAS TANAH YANG DIRAMPOK – SURAT TERBUKA UNTUK PT IWIP DARI YESAYA BADENGO

Sunday, 19 April 2026 - 11:29

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Halmahera Tengah – 19 April 2026 Di sudut terpencil Desa Sawai itepo, di mana angin seharusnya berhembus membawa damai dan tanah menjanjikan kehidupan, kini hanya tersisa debu dan tangis yang tertahan. Di sana, seorang bapak bernama Yesaya Badengo berdiri sendirian, menghadap raksasa baja bernama PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (PT IWIP). Bukan dengan senjata, bukan dengan teriakan kebencian, melainkan dengan pertanyaan sederhana yang menusuk hati nurani: “Jika sudah dibayar, bayar ke siapa?”

Pertanyaan itu bukan sekadar kata-kata. Itu adalah jeritan seorang ayah yang melihat tanah leluhurnya—tanah yang menghidupi anak cucunya, tanah yang menyimpan keringat dan doa generasi sebelum dia—diambil paksa, digarap alat berat, dan diubah menjadi tumpukan nikel tanpa sepeser pun kompensasi yang sampai ke tangannya.

PT IWIP, melalui wakil HRD-nya, dengan dingin menyatakan: “Lahan itu sudah dibayar.” Kalimat itu keluar begitu mudah, seolah-olah uang bisa tumbuh di pohon, seolah-olah kebenaran bisa ditentukan oleh siapa yang paling keras suaranya. Tapi mari kita lihat realitanya:Yesaya Badengo, pemilik sah, masih berdiri di sana dengan tangan hampa. Matanya merah bukan karena debu tambang, tapi karena menahan perihnya ketidakadilan.

Jika benar sudah dibayar, ke mana larinya uang itu? Apakah ada tangan-tangan tak terlihat yang memotong jalan rezeki warga? Apakah ada nama-nama yang dipalsukan dalam dokumen transfer? Atau jangan-jangan, perusahaan ini sengaja bermain api, berharap warga kecil akan lelah dan akhirnya menyerah?

Ini bukan lagi sengketa biasa. Ini adalah tragedi kemanusiaan. Ini tentang bagaimana sebuah korporasi besar dengan modal triliunan rupiah tega menginjak-injak martabat seorang bapak yang hanya meminta haknya. Bagaimana mungkin mereka tidur nyenyak di atas tanah yang basahnya oleh air mata pemiliknya?

Kasus Yesaya bukan kasus pertama. Ia adalah bab baru dalam buku hitam sejarah industri nikel di Halmahera Tengah.

Mereka datang dengan janji kesejahteraan. Mereka bawa bendera “proyek strategis nasional”. Tapi apa yang tinggal? Hutan yang gundul, sungai yang keruh, dan warga yang kehilangan sumber kehidupan. Dan yang paling menyakitkan: janji yang ingkar.

Yesaya Badengo adalah wajah dari ratusan warga lain yang senasib. Dia adalah simbol dari rakyat kecil yang dianggap tidak punya suara. Tapi hari ini, suaranya menggema. Suaranya menyayat hati siapa saja yang masih punya nurani.

Kepada para direksi dan pemegang saham PT IWIP: Cobalah sejenak tutup laporan keuangan Anda. Cobalah dengarkan bukan dengan telinga korporasi, tapi dengan hati manusia. Dengarkan tangis Itep. Dengarkan pertanyaan sederhana yang belum juga dijawab: “Bayar ke siapa?”

Apakah kalian tidak malu? Apakah kalian tidak merasa sakit ketika melihat seorang bapak tua harus berjuang sendirian melawan mesin birokrasi dan hukum yang kalian kendalikan? Apakah keuntungan dari nikel itu worth it untuk menghancurkan hidup seseorang?

Kami tidak meminta belas kasihan. Kami meminta keadilan. Kami meminta kejujuran. Kami meminta PT IWIP untuk:

1. Membuka semua data transaksi terkait lahan Itep Yesaya Badengo. Tunjukkan bukti transfer, tunjukkan nama penerima, tunjukkan tanggalnya. Jangan sembunyi di balik kalimat “sudah dibayar” tanpa bukti.

2. Segera bayar hak Itep jika memang terjadi kesalahan administrasi. Jika ternyata uang itu memang tidak pernah cair, bayarlah sekarang juga, lengkap dengan permintaan maaf yang tulus.

3. Hentikan segala bentuk intimidasi. Cukup sudah warga Sawai hidup dalam ketakutan. Biarkan mereka bernapas lega.

Hari ini, Yesaya menangis. Tapi ingatlah, air mata yang tertumpah karena ketidakadilan tidak akan hilang begitu saja. Ia akan mengendap, menjadi bara, dan suatu saat akan menyala menjadi api yang membakar segala bentuk kesewenang-wenangan.

Jangan tunggu sampai api itu membesar. Jangan tunggu sampai ribuan warga turun ke jalan. Jangan tunggu sampai nama baik PT IWIP hancur lebur di mata dunia karena dianggap perampok tanah rakyat.

Selesaikan ini sekarang. Dengan cara yang manusiawi. Dengan cara yang bermartabat. Karena pada akhirnya, tidak ada pembangunan yang mulia jika dibangun di atas puing-puing air mata warga kecil.

Tuhan melihat segalanya. Rakyat mengingat segalanya. Dan sejarah akan mencatat: siapa yang berdiri di pihak kebenaran, dan siapa yang memilih menjadi bagian dari kejahatan yang sistematis.

Jangan menyerah, Bapak. Perjuangan Bapak adalah perjuangan kita semua. Tanah ini mungkin sementara diambil, tapi keadilan akan tetap milik mereka yang terus memperjuangkannya. Kami berdiri bersama Bapak.

Inv: Suparman

Follow WhatsApp Channel infomalut.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Empat Tahun Menunggu Kepastian: Desa Persiapan Lukulamo Terkatung-Katung, Hak Rakyat Diduga Diabaikan
Dinkes Halteng Terima Kunjungan Tim Provinsi Maluku Utara untuk Perkuat Pelaksanaan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
Ahlan Djumadil: MTQ Bukan Sekadar Lomba, Tapi Syiar Islam dan Pembinaan Akhlak
Pemdes Aer Salobar dan Masyarakat Bersinergi Bangun Jalan Rabat Beton untuk Kepentingan Bersama
Wabup Halmahera Timur Kunjungi BPVP Lombok Timur, Perkuat Pengembangan SDM Unggul
Komisi II DPRD Halteng Tekankan Pentingnya Stabilitas Harga BBM untuk Masyarakat
DPRD Halmahera Tengah Gelar Paripurna Ke-3 Bahas Arah Pembangunan Lima Tahun Kedepan
Wisuda Doktor IPB, Dr. Ikram Malan Sangadji Bawa Harapan Baru untuk Maluku Utara Dibidang Perikanan dan Kelautan

Berita Terkait

Friday, 19 June 2026 - 13:34

Empat Tahun Menunggu Kepastian: Desa Persiapan Lukulamo Terkatung-Katung, Hak Rakyat Diduga Diabaikan

Saturday, 23 May 2026 - 00:37

Dinkes Halteng Terima Kunjungan Tim Provinsi Maluku Utara untuk Perkuat Pelaksanaan Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Friday, 22 May 2026 - 01:57

Ahlan Djumadil: MTQ Bukan Sekadar Lomba, Tapi Syiar Islam dan Pembinaan Akhlak

Thursday, 21 May 2026 - 03:28

Pemdes Aer Salobar dan Masyarakat Bersinergi Bangun Jalan Rabat Beton untuk Kepentingan Bersama

Tuesday, 19 May 2026 - 14:00

Wabup Halmahera Timur Kunjungi BPVP Lombok Timur, Perkuat Pengembangan SDM Unggul

Berita Terbaru