Halmahera Tengah — Penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di kawasan tambang nikel Weda Bay Nickel (WBN) tahun 2026 mulai memunculkan dampak nyata bagi para pekerja di lapangan. Sejumlah karyawan yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK), termasuk Mas Yudi dan rekan-rekannya, kini menyuarakan keluh kesah mereka melalui curahan hati yang menyentuh dan menggugah perhatian publik.
Bagi sebagian orang, penyesuaian RKAB mungkin hanya dianggap sebagai bagian dari kebijakan industri pertambangan. Namun bagi para pekerja tambang, keputusan tersebut berarti ancaman terhadap sumber penghidupan keluarga mereka.
Salah satu mantan pekerja proyek WBN mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah membayangkan hari terakhir bekerja datang secepat itu.
Bertahun-tahun ia menjalani pekerjaan berat di area tambang dengan penuh pengorbanan demi memenuhi kebutuhan keluarga.
“Setiap hari kami bekerja di bawah panas, hujan, lumpur, debu, dan risiko tinggi. Semua dijalani karena kami percaya pekerjaan ini bisa menghidupi keluarga,” ungkapnya dengan nada haru.
Menurutnya, proyek di kawasan WBN bukan sekadar tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang perjuangan yang menyimpan harapan besar bagi masa depan anak-anak dan keluarga para pekerja.
Ketika kabar mengenai penyesuaian RKAB WBN 2026 mulai terdengar, rasa cemas mulai menyelimuti para pekerja. Namun banyak yang masih berharap tetap dipertahankan hingga akhirnya keputusan PHK benar-benar terjadi.
“Yang paling berat bukan kehilangan pekerjaan, tetapi saat pulang ke rumah dan melihat keluarga berharap semuanya baik-baik saja, sementara di kepala penuh pertanyaan tentang masa depan,” tuturnya.
Ia mengaku kini dihantui berbagai kekhawatiran, mulai dari cicilan rumah, biaya pendidikan anak, hingga ketidakpastian mencari pekerjaan baru di tengah kondisi industri tambang nikel yang sedang lesu.
Curahan hati tersebut juga menggambarkan sisi lain kehidupan pekerja tambang yang selama ini jarang terlihat publik. Di balik helm dan seragam kerja, ada kepala keluarga yang berjuang menjaga dapur tetap menyala.
Meski merasakan kesedihan mendalam, para pekerja mengaku memahami bahwa kondisi industri pertambangan saat ini memang tidak mudah. Mereka percaya keputusan perusahaan juga diambil dalam situasi penuh tekanan akibat penyesuaian operasional dan kebijakan sektor tambang nasional.
Namun demikian, mereka berharap pemerintah dapat hadir memberikan perhatian terhadap nasib para pekerja yang terdampak, termasuk Mas Yudi dan rekan-rekannya yang kini harus menghadapi ketidakpastian setelah kehilangan pekerjaan.
“Kami tidak meminta belas kasihan. Kami hanya berharap ada kesempatan untuk tetap bekerja, tetap berkarya, dan tetap mampu menghidupi keluarga kami dengan cara yang baik dan terhormat,” tulis pekerja tersebut dalam curahan hatinya.
Para pekerja juga meminta pemerintah, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, agar memperhatikan keberlangsungan lapangan kerja di sektor tambang nikel, mempercepat kepastian RKAB, serta menjaga iklim investasi dan operasional industri pertambangan.
Mereka berharap suara sederhana dari para pekerja lapangan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi seluruh pihak yang memiliki kewenangan dalam menentukan arah kebijakan sektor pertambangan nasional.
Di tengah ketidakpastian yang sedang dihadapi, para pekerja mengaku tetap bangga pernah menjadi bagian dari perjalanan industri tambang nikel di Halmahera Tengah.
Pengalaman bekerja di tengah kerasnya dunia tambang disebut telah membentuk mental dan ketangguhan mereka.
Kini, harapan terbesar para pekerja terdampak PHK, termasuk Mas Yudi dan rekan-rekannya, hanyalah satu: agar keadaan segera membaik dan kesempatan baru kembali terbuka bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertambangan.(**)









