Problem Kota: Ketika Kemajuan Tidak Selalu Menghadirkan Kesejahteraan

Tuesday, 7 July 2026 - 08:32

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Problem Kota: Ketika Kemajuan Tidak Selalu Menghadirkan Kesejahteraan

Oleh: Fahregi samaun

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Fakultas Fisip, Prodi Sosiologi

Kota sering dipandang sebagai simbol kemajuan. Berbagai fasilitas seperti pusat pendidikan, layanan kesehatan, kawasan industri, dan peluang kerja menjadikan kota tujuan utama masyarakat yang ingin memperbaiki kualitas hidup. Karena itu, urbanisasi terus meningkat setiap tahun. Namun, di balik perkembangan tersebut, kota juga menghadapi berbagai persoalan sosial yang semakin kompleks. Kemajuan fisik tidak selalu diikuti oleh meningkatnya kesejahteraan masyarakat secara merata.

Dalam perspektif sosiologi, problem kota bukan hanya persoalan kemacetan, banjir, atau sampah. Masalah-masalah tersebut merupakan dampak dari perubahan sosial, ketimpangan ekonomi, lemahnya kontrol sosial, dan pembangunan yang belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga. Oleh karena itu, persoalan kota perlu dipahami tidak hanya dari sisi infrastruktur, tetapi juga dari hubungan sosial yang berkembang di dalamnya.

Salah satu persoalan utama adalah urbanisasi. Perpindahan penduduk dari desa ke kota terjadi karena adanya harapan memperoleh pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Namun, pertumbuhan penduduk sering kali lebih cepat daripada kemampuan pemerintah menyediakan lapangan kerja, perumahan, dan pelayanan publik. Akibatnya, muncul pengangguran, permukiman kumuh, dan meningkatnya pekerja di sektor informal.

Louis Wirth menjelaskan bahwa kehidupan kota ditandai oleh jumlah penduduk yang besar, kepadatan tinggi, dan keberagaman masyarakat. Kondisi ini membuat hubungan sosial menjadi lebih formal dan individual sehingga rasa kebersamaan cenderung berkurang. Sementara itu, Émile Durkheim menyebut masyarakat modern hidup dalam solidaritas organik yang sangat bergantung pada pembagian kerja. Ketika norma sosial melemah atau terjadi anomie, berbagai masalah seperti kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, dan rendahnya kepedulian sosial lebih mudah muncul.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kesenjangan sosial. Di banyak kota, kawasan permukiman mewah berdampingan dengan permukiman kumuh. Menurut Karl Marx, kondisi tersebut merupakan akibat dari sistem ekonomi yang menghasilkan ketimpangan kepemilikan modal sehingga manfaat pembangunan lebih banyak dinikmati kelompok tertentu. Pandangan ini diperkuat oleh Manuel Castells yang melihat kota sebagai arena perebutan sumber daya, sehingga berbagai persoalan perkotaan juga dipengaruhi oleh kebijakan pembangunan yang belum sepenuhnya adil.

Selain itu, masalah lingkungan semakin menjadi perhatian. Polusi udara, berkurangnya ruang terbuka hijau, banjir, dan meningkatnya volume sampah menunjukkan bahwa pembangunan sering kali lebih mengutamakan pertumbuhan ekonomi dibandingkan keberlanjutan lingkungan. Jika kondisi ini terus berlangsung, kualitas hidup masyarakat perkotaan akan semakin menurun.

Fenomena tersebut dapat dilihat di berbagai kota di Indonesia. Jakarta masih menghadapi kemacetan, banjir, dan polusi udara, sedangkan kota-kota berkembang seperti Ternate mulai mengalami peningkatan volume kendaraan, keterbatasan lahan permukiman, serta persoalan pengelolaan sampah. Hal ini menunjukkan bahwa problem perkotaan tidak hanya terjadi di kota metropolitan, tetapi juga mulai dirasakan oleh kota-kota yang sedang berkembang.

Menurut saya, penyelesaian problem kota tidak cukup hanya melalui pembangunan infrastruktur. Pemerintah juga perlu menciptakan kebijakan yang lebih adil, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan dan kehidupan sosial. Pembangunan kota seharusnya tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada pemerataan kesejahteraan dan keberlanjutan lingkungan.

Pada akhirnya, kota yang ideal bukan hanya memiliki gedung-gedung megah atau fasilitas modern, tetapi juga mampu memberikan kesempatan yang setara, lingkungan yang sehat, serta kehidupan sosial yang harmonis bagi seluruh masyarakat. Dengan demikian, pembangunan kota benar-benar berorientasi pada kesejahteraan manusia, bukan sekadar pada kemajuan fisik.

Follow WhatsApp Channel infomalut.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Problem Perkotaan: Mengembalikan Ingatan Dua Periode Kepemimpinan Tauhid Soleman
Agama, Akal dan Politik. 
Wajah Kota Ternate di Tengah Krisis Sampah
Kriminalitas Kota yang Semakin Pesat
Problem Kota di Tengah Arus Urbanisasi dan Pembangunan
MAHALNYA BIAYA HIDUP KOTA DAN STRATEGI KELUARGA BURUH DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN POKOK
Muktamar Ambon: Ketika KAMMI Disandera oleh Pertarungan Elit
Kenaikan BBM di Malut: Dampak pada Harga Pokok & Logistik Antarpulau

Berita Terkait

Tuesday, 7 July 2026 - 14:28

Problem Perkotaan: Mengembalikan Ingatan Dua Periode Kepemimpinan Tauhid Soleman

Tuesday, 7 July 2026 - 08:32

Problem Kota: Ketika Kemajuan Tidak Selalu Menghadirkan Kesejahteraan

Monday, 6 July 2026 - 15:03

Agama, Akal dan Politik. 

Monday, 6 July 2026 - 04:04

Wajah Kota Ternate di Tengah Krisis Sampah

Monday, 6 July 2026 - 03:05

Kriminalitas Kota yang Semakin Pesat

Berita Terbaru