Oleh : Muhammad Alsaf lobiua
( Ketua Kebijakan Publik KAMMI Daerah Ternate.)
Muktamar KAMMI XIV di Ambon seharusnya menjadi momentum konsolidasi dan penguatan arah perjuangan organisasi. Namun realitas yang tampak justru memperlihatkan adanya tarik-menarik kepentingan antar dua kubu yang saling mengklaim legitimasi. Berbagai pernyataan penolakan, tudingan ilegal, hingga klaim kepemimpinan yang sah menunjukkan bahwa persoalan KAMMI hari ini bukan lagi sekadar perbedaan pandangan, melainkan telah menjelma menjadi krisis kepercayaan internal.
Yang paling disayangkan, pertarungan ini tidak terjadi di tingkat kader komisariat. Ia lahir dan berkembang di ruang-ruang elit organisasi. Namun dampaknya justru dirasakan oleh kader-kader akar rumput yang selama ini menjadi tulang punggung gerakan.
Di komisariat, kader masih sibuk melakukan pembinaan, menggelar kajian, mengadvokasi masyarakat, dan menjaga eksistensi organisasi di kampus. Sementara di tingkat pusat, energi organisasi terkuras untuk mempertahankan kubu masing-masing. Seolah-olah masa depan KAMMI hanya ditentukan oleh siapa yang menang dalam perebutan legitimasi, bukan oleh seberapa besar manfaat yang diberikan kepada umat dan bangsa.
Narasi yang terus didengungkan tentang “penyelamatan organisasi”, “menjaga konstitusi”, atau “mengembalikan marwah KAMMI” akan menjadi omong kosong apabila pada akhirnya yang dikorbankan adalah kader-kader komisariat. Sebab kader akar rumput tidak membutuhkan perang pernyataan. Mereka membutuhkan kepastian arah gerakan, sistem kaderisasi yang sehat, dan kepemimpinan yang mampu menjadi teladan.
Ironisnya, ketika elit sibuk berbicara tentang konstitusi dan legitimasi, banyak komisariat yang berjuang dengan keterbatasan dana, minim pendampingan, dan rendahnya perhatian struktural. Ketika elit memperdebatkan siapa yang paling sah, kader komisariat justru mempertanyakan satu hal yang lebih mendasar: siapa yang benar-benar peduli terhadap kader?
Jika konflik ini terus dipelihara, maka yang akan lahir bukanlah KAMMI yang kuat, melainkan generasi kader yang apatis. Mereka akan melihat bahwa organisasi yang selama ini mengajarkan persatuan, ukhuwah, dan kepemimpinan ternyata tidak mampu menyelesaikan persoalan internalnya sendiri.
Muktamar di Ambon seharusnya menjadi panggung rekonsiliasi, bukan arena adu ego. Sebab sejarah tidak akan mencatat siapa kubu yang paling keras berteriak, tetapi akan mencatat siapa yang mampu menyelamatkan organisasi dari perpecahan.
KAMMI dibangun oleh ribuan kader yang berjuang dari komisariat-komisariat kecil di berbagai pelosok negeri. Karena itu, jangan jadikan mereka korban dari ambisi segelintir elit. Jangan jual nama persatuan jika yang dipertontonkan adalah perpecahan. Jangan bicara tentang masa depan gerakan jika hari ini kader akar rumput justru dibiarkan menanggung beban konflik yang tidak mereka ciptakan.
Sebab KAMMI tidak akan runtuh karena perbedaan pendapat. KAMMI akan runtuh ketika para elit lebih sibuk memenangkan kubunya daripada menjaga rumah besar yang bernama KAMMI.








