Oleh:Muhajrin Umasangadji
Pegiat Literasi.
Pertumbuhan ekonomi modern membentuk pola pikir manusia yang dominan pada materil dibandingkan hati nurani. Singkatnya uang membutakan mata hati, hal ini sangat prihatin apalagi tokoh-tokoh agama yang menggunakan ayat-ayat kitab suci untuk kepentingannya.
Agama yang sejatinya turun sebagai panduan etis dan moral yang memerdekakan, hari ini kerap direduksi menjadi sekadar merek dagang (merek) dan alat belah. Ketika simbol kesucian digadaikan demi meraih kursi jabatan atau menumpuk pundi-pundi finansial, di titik itulah nilai luhur ketuhanan sedang mengalami pembekuan dari dalam oleh pemeluknya sendiri.
Dalam neurosains Islam dan terminologi Al-Qur’an, fungsi akal tidak berpusat pada pemikiran rasional-materialis semata, melainkan terintegrasi dengan hati. Al-Qur’an menyebutkan istilah “Maka tidakkah mereka berjalan di bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami…” (QS. Al-Hajj: 46)
Ayat ini menunjukkan bahwa akal yang sejati di dalam Al-Qur’an bersinergi dengan ketajaman rasa dan kebersihan hati (qalbu). Nalar rasional mengolah data empiris di lapangan, sambil hati menangkap esensi spiritual dan keimanan.
Saya menggunakan pikiran Filsafat untuk membedah akal manusia. Dalam bukunya Pengantar Filsafat. Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme karya Dr. Ali Maksum, ia mencoba membedakan manusia, hewan, jin dan makhluk lainnya. Dalam buku itu, perbedaan manusia dan hewan terletak pada pengetahuan. Hewan memiliki pengetahuan yang statis (diam, tetap, tidak berubah) sementara manusia memiliki pengetahuan yang dinamis (berubah). Namun, satu kelebihan yang dimiliki manusia adalah akal.
Kemudian saya meminjam pemikirannya Nurcholish Madjid (Cak Nur) Ia seorang cendekiawan muslim terkemuka, beliau sangat menentang formalisasi dan eksklusivisme agama. Beliau sering mengingatkan agar simbol-simbol agama tidak dieksploitasi untuk kepentingan politik praktis jangka pendek yang justru merusak kesucian dan nilai universal agama itu sendiri.
Dalam teorinya yang kita kenal dengan “Sekularisasi Teologis” dimana Cak Nur membedakan secara tegas antara nilai yang transenden (sakral/ilahi) dan temporal (duniawi/profan). Sekularisasi di sini bukan berarti menyampingkan agama (sekularisme). Teori ini adalah proses “menduniawikan” hal-hal yang memang urusan dunia seperti politik, jabatan, dan taktik pemilu agar tidak dianggap sakral atau suci. Ketika politik dianggap sebagai urusan duniawi yang profan, politisi tidak bisa lagi mengklaim bahwa “memilih dirinya adalah perintah Tuhan” atau “melawan dirinya adalah dosa besar.
Di sini pentingnya kita melakukan sekularisasi teologis dalam berpikir bukan membuang agama dari kehidupan, melainkan esensi jujuruntuk memisahkan mana yang sakral dan mana yang duniawi. Pemilu, jabatan, dan taktik politik adalah urusan profan yang penuh intrik. Meyamakan pilihan politik dengan perintah Tuhan adalah bentuk manipulasi emosi umat yang sangat tidak etis.
Mengapa pembodohan berbasis agama ini begitu laris manis di masyarakat? Akar masalah ada pada cara berpikir kita yang cenderung statistik. Banyak dari kita yang terjebak dalam cara memandang lama yang menganggap keagamaan itu kaku dan tidak boleh dipertanyakan. Kita dilatih untuk menerima dogma secara pasif tanpa keberanian untuk menguji kegunaan moralnya di dunia nyata. Masyarakat yang malas berpikir secara dinamis akan menjadi mangsa empuk bagi para “pedagang agama”.
Padahal, jika kita membaca Al-Qur’an secara jernih, Tuhan justru sangat membenci kejumudan berpikir. Al-Qur’an tidak pernah memosisikan akal sebagai benda mati yang pasif. Kata “akal” dalam kitab suci selalu berbentuk kata kerja yang artinya akal itu harus terus bergerak, berproses, menganalisis, dan memberi persetujuan kritis. Mematikan fungsi akal demi memenuhi buta pada figur-figur yang mengeksploitasi agama adalah bentuk pengabdian terhadap fitrah kemanusiaan yang diberikan oleh Tuhan.
Mirisnya jika agama dianggap sebagai suatu formalitas untuk melengkapi data statistik sebagai seorang warga negara. Maka disitulah letak kehancuran suatu bangsa. Bagimana kita ingin melawan kapitalisme agama, sementara kita tidak mempelajari ilmu agama dan politik.
Ibaratnya, kita ingin melawan musuh dalam suatu pertempuran hal pertama yang kita lakukan adalah mempelajari taktik perlawanannya agar kita bisa mencegah penyerangan yang dilakukan mereka, setelah itu kita menggunakan taktik mereka untuk menyerang.








