Wajah Kota Ternate di Tengah Krisis Sampah

Monday, 6 July 2026 - 04:04

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

Oleh: SAGITA FAHRI

 

Kota Ternate dikenal sebagai Kota Rempah yang memiliki keindahan alam, nilai sejarah, dan potensi pariwisata yang besar. Namun, di balik pesona tersebut, Ternate sedang menghadapi persoalan yang semakin mengkhawatirkan, yaitu krisis sampah. Hampir setiap hari masyarakat menjumpai tumpukan sampah di berbagai sudut kota, mulai dari kawasan permukiman, jalan utama, hingga tempat-tempat wisata. Kondisi ini tidak hanya mengganggu keindahan kota, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Persoalan sampah bukan sekadar masalah kebersihan. Krisis ini mencerminkan belum optimalnya pengelolaan lingkungan, rendahnya kesadaran sebagian masyarakat, serta perlunya peningkatan pelayanan publik. Apabila tidak ditangani secara serius, Ternate dapat kehilangan citranya sebagai kota yang nyaman dan layak huni.

Beberapa waktu terakhir, tumpukan sampah terlihat di sejumlah wilayah Kota Ternate. Salah satu contoh yang cukup nyata terjadi di kawasan Fitu, khususnya di sekitar Puncak Fitu, yang merupakan salah satu lokasi wisata di Kota Ternate. Di kawasan ini, sampah sempat menumpuk karena pengangkutan oleh petugas tidak dilakukan tepat waktu sehingga volume sampah terus bertambah setiap harinya. Kondisi tersebut menimbulkan bau tidak sedap, mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar, serta mengurangi keindahan kawasan yang sering dikunjungi wisatawan. Selain itu, bak penampungan sampah di lokasi tersebut mengalami kerusakan sehingga tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, masyarakat untuk sementara waktu dilarang membuang sampah di lokasi tersebut karena bak sampah sedang dalam proses perbaikan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada kesadaran masyarakat, tetapi juga memerlukan fasilitas yang memadai serta pengangkutan sampah yang rutin agar tidak terjadi penumpukan yang dapat merusak kebersihan dan keindahan lingkungan.

Penyebab krisis sampah tidak hanya berasal dari meningkatnya jumlah penduduk, tetapi juga dari perubahan pola konsumsi masyarakat yang menghasilkan lebih banyak sampah plastik dan kemasan sekali pakai. Selain itu, kebiasaan membuang sampah sembarangan masih ditemukan di sebagian masyarakat. Di sisi lain, keterbatasan armada pengangkut, fasilitas pengelolaan sampah, serta sistem pengolahan yang belum maksimal membuat sampah semakin sulit ditangani.

Pengelolaan sampah di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, hingga saat ini masih menjadi perhatian serius. Setiap hari, sekitar 100–120 ton sampah diangkut menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Kelurahan Takome. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), komposisi sampah di Kota Ternate didominasi oleh sampah organik yang mencapai sekitar 40–43 persen dari total timbulan sampah. Tingginya volume sampah tersebut menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari proses pemilahan di tingkat rumah tangga, keterbatasan sarana dan prasarana, hingga pengolahan akhir di TPA.

Menyadari kondisi tersebut, Pemerintah Kota Ternate melalui Dinas Lingkungan Hidup terus melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah tidak lagi hanya mengandalkan pola kumpul–angkut–buang, tetapi diarahkan pada pengurangan sampah sejak dari sumbernya melalui penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle). Pemerintah juga berupaya meningkatkan kapasitas TPA Takome, mengembangkan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R), serta mendorong program pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat di sejumlah kelurahan. Meskipun demikian, berbagai program tersebut belum akan berjalan maksimal tanpa adanya dukungan dan kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga kebersihan lingkungan.

Dampak krisis sampah sangat luas. Dari sisi kesehatan, tumpukan sampah menjadi tempat berkembang biaknya lalat, nyamuk, dan tikus yang dapat memicu berbagai penyakit. Dari sisi lingkungan, sampah mencemari tanah, saluran air, dan laut yang menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir. Ketika saluran drainase tersumbat oleh sampah, risiko banjir juga meningkat saat hujan deras. Sementara itu, dari sisi ekonomi, lingkungan yang kotor dapat mengurangi daya tarik wisata Kota Ternate dan berdampak pada pendapatan masyarakat yang bergantung pada sektor pariwisata.

Dalam perspektif sosiologi, persoalan ini dapat dianalisis menggunakan Teori Fungsionalisme dari Talcott Parsons. Menurut teori ini, masyarakat merupakan suatu sistem yang terdiri atas berbagai unsur yang saling berkaitan. Apabila salah satu unsur tidak menjalankan fungsinya dengan baik, maka keseimbangan sosial akan terganggu. Dalam konteks Kota Ternate, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Selain itu, Teori Tindakan Sosial dari Max Weber menjelaskan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh nilai dan kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat. Oleh karena itu, perubahan perilaku masyarakat menjadi salah satu kunci utama dalam mengatasi krisis sampah.

Menurut saya, krisis sampah yang terjadi di Kota Ternate merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah memang memiliki kewajiban menyediakan sistem pengelolaan sampah yang baik, tetapi masyarakat juga harus berperan aktif dengan menjaga kebersihan lingkungan, memilah sampah dari rumah, serta menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle) dalam kehidupan sehari-hari. Jika semua pihak memiliki kepedulian dan bekerja sama secara konsisten, saya yakin Kota Ternate mampu keluar dari krisis sampah dan kembali menjadi kota yang bersih, sehat, nyaman, serta menjadi kebanggaan masyarakat Maluku Utara.

Untuk mengurangi permasalahan sampah di Kota Ternate, diperlukan langkah-langkah nyata yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Pemerintah perlu menambah armada pengangkut sampah, menyediakan lebih banyak tempat sampah di ruang publik, memperluas program bank sampah, serta meningkatkan edukasi dan penegakan aturan bagi masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Selain itu, pengelolaan sampah organik dapat dilakukan melalui pembuatan kompos, sedangkan sampah anorganik dapat didaur ulang atau disalurkan ke bank sampah agar memiliki nilai ekonomi. Sekolah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan komunitas pemuda juga perlu aktif mengadakan kegiatan bersih lingkungan dan kampanye peduli sampah secara rutin. Dengan adanya kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, volume sampah yang masuk ke TPA Takome dapat berkurang sehingga lingkungan Kota Ternate menjadi lebih bersih, sehat, asri, dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan.

Krisis sampah di Kota Ternate merupakan persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Permasalahan ini membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan. Dengan meningkatnya kesadaran, kedisiplinan, serta pengelolaan sampah yang lebih baik, Kota Ternate dapat kembali menjadi kota yang bersih, sehat, nyaman, dan tetap menjadi Kota Rempah yang indah serta membanggakan bagi masyarakat Maluku Utara.

Follow WhatsApp Channel infomalut.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Problem Kota: Ketika Kemajuan Tidak Selalu Menghadirkan Kesejahteraan
Agama, Akal dan Politik. 
Kriminalitas Kota yang Semakin Pesat
Problem Kota di Tengah Arus Urbanisasi dan Pembangunan
MAHALNYA BIAYA HIDUP KOTA DAN STRATEGI KELUARGA BURUH DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN POKOK
Muktamar Ambon: Ketika KAMMI Disandera oleh Pertarungan Elit
Kenaikan BBM di Malut: Dampak pada Harga Pokok & Logistik Antarpulau
Mahasiswa IT Harus Berani Melampaui Zona Nyaman, Bukan Sekadar Mengejar Nilai

Berita Terkait

Tuesday, 7 July 2026 - 08:32

Problem Kota: Ketika Kemajuan Tidak Selalu Menghadirkan Kesejahteraan

Monday, 6 July 2026 - 04:04

Wajah Kota Ternate di Tengah Krisis Sampah

Monday, 6 July 2026 - 03:05

Kriminalitas Kota yang Semakin Pesat

Monday, 6 July 2026 - 02:57

Problem Kota di Tengah Arus Urbanisasi dan Pembangunan

Saturday, 4 July 2026 - 12:35

MAHALNYA BIAYA HIDUP KOTA DAN STRATEGI KELUARGA BURUH DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN POKOK

Berita Terbaru